SUTET : Radiasinya Mirip Nuklir!

SUTET mendadak ramai jadi bahan obrolan beberapa tahun lalu. Tapi sayangnya kepopuleran SUTET dicurigai gara- gara penyebab timbulnya gejala penyakit pada tubuh manusia.

Siapa sih sebenarnya SUTET itu??? Kok bisa jadi penyebab penyakit???. Cek beritanya dibawah ini!.

Kenapa SUTET dicurigai???
SUTET atau yang disebut Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi merupakan jaringan yang dipakai buat menyalurkan energy listrik dari pusat pembangkit menuju pusat beban yang jaraknya jauh. Istilah dari saluran udara digunakan karena jaringannya berupa bentangan kabel listrik yang berada pada ketinggian tertentu dari tanah. Dan tegangan ekstra tinggi buat menandai besarnya daya listrik yang dialirkan, maksimalnya sekitar 500 kiloVolt (kV).
Aliran ekstra tinggi diudara dianggap memancarkan radiasi yang berbahaya. Bahkan bisa disamakan dengan radiasi nuklir atau bahan bahan radioaktif lainnya. Tuduhan ini muncul karena sejumlah warga yang tinggal nggak jauh dari menara SUTET mengeluh pusing, sakit kepala, jantung berdebar, sampai susah tidur.

Radiasi SUTET
Adanya radiasi akibat tegangan tinggi sudah lama jadi perhatian para ahli elektro. Di awali sejak James Clerk Maxwell, Profesor Fisika dari Universitas Cambridge, dengan teorinya yang berjudul a dynamic theory of the electromagnetic field. Di teori ini disebutkan suatu pergeseran arus yang menimbulkan rambatan gelombang electromagnet. Electron bebas di udara terpengaruh pergerakan electron yang membawa arus listrik. Proses ini menimbulkan pembentukan ion dan electron yang berlebih, dan bahkan mengeluarkan percikan cahaya atau yang dikenal dengan Korona. Timbulnya korona disebabkan karena adanya radiasi tegangan tinggi.

Arti Radiasi Tegangan Tinggi
Sel- sel tubuh manusia sangat mudah terpengaruh oleh apapun bentuk radiasi. Tapi akan aman- aman saja asalkan masih dalam batas aman yang tentunya di izinkan. Contohnya radiasi nuklir dianggap masih dianggap aman kalo terkena dosis dibawah 500 mili REM per tahun.
Sedangkan batas aman radiasi tegangan tinggi sampai saat ini belum mendapatkan kata sepakat dari berbagai ahli. Dikarenakan penelitian baru melihat pengaruhnya terhadap tikus percobaan. Padahal dampak tikus dan manusia berbeda jauh. Tapi sejumlah Negara udah menetapkan sendiri batas aman radiasi tegangan tinggi. (Kid-oest News : dari berbagai sumber).

Hati – Hati Radiasi Ponsel!

Kabar soal radiasi dari ponsel sebenarnya bukan hal baru. Sejak ponsel dimunculkan, beberapa ilmuwan memperingatkan bahaya radiasi terutama pada otak manusia. Tapi semua jadi perdebatan.
Nah, perdebatan itu muncul dari ahli saraf Leif Salford cs. Dari Lund University di Swedia. Berdasarkan penelitian Leif ini. Ada hubungan yang kuat antara radiasi Microwave dari ponsel GSM pada kerusakan otak tikus yang jadi kelinci percobaan.

Bersama timnya, Leif ini meradiasi 32 tikus selama 2 jam dengan radiasi Microwave dari ponsel GSM. Para peneliti menempelkan ponsel dikandang tikus menggunakan kabel RCA agar radiasi bisa mengenai tikus. Prinsip ini dipakai, meniru penggunaan ponsel yang di tempelkan di telinga dan menempel di kepala manusia. Kemuadian lamanya radiasi divariasikan sesuai dengan penggunaan ponsel sehari- hari.
Setelah terkena radiasi selama 50 hari (perharinya 2 jam), otak tikus menunjukan kebocoran di pembuluh darah otak. Nggak Cuma itu, di bagian yang terkena radiasi juga terjadi pengecilan dan kerusakan saraf. Makin tinggi radiasinya, kerusakan yang di timbulkan makin parah.
Berdasarkan penelitian ini, Leif cs yakin kalo otak manusia yang terkena radiasi ponsel berkepanjangan bisa mengalami kerusakan mental yang terukur dalam waktu panjang.
Industry ponsel langsung bereaksi keras terhadap hasil penelitian ini. Mereka mengatakan emisi radiasi ponsel sekarang berada di bawah level radiasi yang ditentukan pemerintah. Asal tau aja, badan manusia hanya mampu menyerap radiasi di bawah 1.6 watt per kilogram.

Menanggapi ini para peneliti dari Swedia tersebut juga bilang, bahwa penelitian ini memang belum bisa disempulkan secara final. Cuma sebagai peringatan. Dia juga menganjurkan agar pengguna ponsel menggunakan fasilitas hands-free untuk mengurangi radiasi ponsel. (kid-oest News : dari berbagai sumber).